Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT atas izin-Nya maka IAI PC Surakarta sukses mengadakan acara webinar dalam rangka peringatan hari TBC sedunia, World TBC Day dengan mengambil judul “Farmasis Bersatu menuju Indonesia Eradikasi Tuberkulosis”. Acara webinar ini bisa diakses melalui platform zoom meeting dan melalui link youtube berikut https://www.youtube.com/watch?v=pQNt9trwZLk.

Acara ini mengundang berbagai narasumber baik dari praktisi maupun birokrat untuk lebih memperluas dan memperbarui ilmu dan informasi kepada farmasis dan tenaga teknis kefarmasian pada khususnya dan masyarakat pada umumnya terkait penanganan TBC, baik di Indonesia dan secara khusus di Kota Surakarta.

Peserta yang hadir secara online lebih dari 261 tenaga kefarmasian, baik dari farmasis/ apoteker (sekitar 156 peserta) maupun dari Tenaga Teknis Kefarmasian/ TTK (sekitar 105 peserta) yang tersebar di banyak daerah mulai dari pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, pulau Timor sampai pulau Papua.

Narasumber pertama yaitu dr. Ratna Ekasari, M.Kes. memberikan materi tentang Infeksi Laten TBC (ILTBC) dan Terapi Pencegahan TBC (TPT). Tujuan updating ILTBC ini adalah supaya kita semua ikut berperan dalam upaya memutus rantai penularan serta ikut mencegah reaktivasi ILTB dengan peran aktif farmasis dan tenaga teknis kefarmasian dalam membantu meningkatkan kepatuhan minum obat melalui edukasi dan konseling bagi pasien.

Adapun setelah memahami TPT diharapkan bisa mengidentifikasi kelompok yang beresiko untuk kemudia ikut inisiasi dan berikan dukungan terkait pemantauan kondisi klinis pasien, keteraturan dan kepatuhan minum obat, serta pencatatan pelaporan monitoring efek samping obat supaya target TPT tercapai, yaitu pasien bisa patuh minum obat secara penuh pada dosis lengkap (80% dosis).

Tantangan dalam implementasi TPT ini antara lain bahwa TPT ini belum prioritas, populasi, logistic dan sarana prasarana diagnostik yang terbatas, kepercayaan bahwa orang ILTB sudah merasa sehat, kurangnya kapasitas nakes untuk mendiagnosis dan  terapi.

Narasumber kedua yaitu dr. Siti Wahyuningsih, M.Kes, MH. (Kepala Dinas Kesehatan Kota Surakarta) memberikan materi tentang Kebijakan dan strategi mewujudkan “Kota Surakarta” – Bebas TBC tahun 2030. Dengan memaparkan data situasi TBC di provinsi Jawa Tengah 2021 bersumber dari Data TB 03 SITB Tahun 2021 per 01/03/2022 dimana tercatat 83.076 Estimasi Kasus TB, 44.201 Ternotifikasi Kasus TB, 53% Treatment Coverage (TC), 753 Terkonfirmasi TB RR/MDR, 593 Kasus Enroll TB RR/MDR, 1.424 Kematian Kasus TB, 86% Treatment success rate (Kohort 2020), 721 Kasus TB HIV, 5.118 Kasus TB Anak.

Data situasi TBC di Kota Surakarta 2021 bersumber dari Data TB 03 SITB Tahun 2021 per 07/03/2022 dimana tercatat 1.853 Estimasi Kasus TB, 1.233 Ternotifikasi Kasus TB, 67% Treatment Coverage (TC), 5 Terkonfirmasi TB RR/MDR, 4 Kasus Enroll TB RR/MDR, 64 Kematian Kasus TB, 88% Treatment success rate (Kohort 2020), 24 Kasus TB HIV, 171 Kasus TB Anak.

Maka upaya akselerasi cakupan penemuan dan pengobatan tuberkulosis di kota Surakarta dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

  1. Melakukan penemuan kasus aktif (Active Case Finding) terutama pada kelompok berisiko seperti pada orang dengan HIV-AIDS (ODHA), pasien DM dan pasien malnutrisi.
  2. Memaksimalkan kegiatan investigasi kontak bersama komunitas.
  3. Perluasan pemberian TPT kepada anak, ODHA, kontak serumah.
  4. Melaksanakan wajib lapor penemuan kasus tuberculosis dan penguatan system surveilans TB di semua fasyankes.
  5. Memperkuat jejaring fasilitas pelayanan Kesehatan pemerintah dan swasta dalam penemuan, tatalaksana dan pengobatan.
  6. Memperluas dan memperkuat layanan diagnostic dan pengobatan tuberculosis.
  7. Memperkuat pemantauan dan pendampingan pengobatan untuk TBC SO dan RO sesuai standar dengan melibatkan komunitas.
  8. Mengoptimalkan komunikasi, informasi dan edukasi tentang tuberculosis kepada masyarakat.

Upaya-upaya tersebut dilakukan dengan harapan agar target nasional stratnas TB 2024 dan peta jalan eliminasi tuberkulosis tahun 2030 insiden turun 90% dapat tercapai.

Narasumber ketiga/ terakhir yaitu apt. Febri Purwantini, S.Si. (Apoteker RSUP Surakarta) menyampaikan materi tentang peran farmasis dan tenaga kefarmasian dalam mencapai target Indonesia eliminiasi TBC 2030 perlu ditingkatkan.

Kemampuan ikut menemukan suspek TBC di fasilitas pelayanan kesehatan serta  pengenalan gejala awal pasien yang datang berobat sangat diperlukan. Peningkatan kemampuan komunikasi, informasi dan edukasi tentang TBC, pemantauan terapi pengobatan, monitoring dan evaluasi hasil pengobatan, juga edukasi kepatuhan minum obat pasien TBC. Kemampuan pengelolaan ketersediaan logistik yang memadai menjadi kegiatan yang sangat menunjang keberhasilan terapi TBC.

Semoga kegiatan webinar ini bermanfaat bagi kita semua terutama peran aktif farmasis dan Tenaga Teknis Kefarmasian dalam membantu program pemerintah untuk menyelamatkan bangsa Indonesia khususnya agar segera terbebas dari penyakit TBC bahkan semoga bisa tercapai sebelum 2030. Aamiin.

===================================================

Sertifikat peserta webinar bisa di download pada link berikut :

  1. Apoteker IAI Surakarta :  https://bit.ly/SertifWTBAptSka
  2. Apoteker luar Surakarta : https://bit.ly/SertifWTBAptNonSka
  3. TTK : https://bit.ly/SertifWTBTTK

Materi Webinar : https://bit.ly/MateriWTBIAISka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.